Arsenal memastikan tempat di final Liga Champions 2025/2026 setelah menaklukkan Atletico Madrid dengan skor 1-0 di Emirates Stadium, London, Selasa (5 Mei 2026). Gol semata wayang dari Bukayo Saka di menit 44 menjadi penentu keputusan dalam semifinal leg kedua yang tegang ini. Dengan kemenangan tersebut, The Gunners berhak menatap mimpi meraih trofi tertua kompetisi klub Eropa untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Pertandingan dimulai dengan Arsenal menampilkan dominasi sejak awal, menguasai bola dengan penguasaan mencapai 107 persen di babak pertama. Atletico Madrid, dengan karakter bertahan yang legendaris di bawah asuhan Diego Simeone, mengatur formasi defensif yang rapat untuk mengacaukan ritme permainan The Gunners. Meski begitu, komposisi pemain Arsenal di lini tengah berhasil menembus pertahanan tamunya, terlebih Declan Rice tampil sangat dominan di fase penguasaan bola.

Gol penentu tiba di menit 44 ketika Leandro Trossard memberikan umpan dari sayap kiri kepada Bukayo Saka, yang kemudian dengan tenang menyelesaikan peluang itu ke gawang Atletico Madrid. Saka membenamkan bolanya ke dalam jala dengan presisi tinggi, memecah kebuntuan pertahanan Los Rojiblancos yang sebelumnya tampak impenetrable. Gol tersebut tiba di penghujung babak pertama, memberi Arsenal keuntungan psikologis memasuki istirahat.
Memasuki babak kedua, Atletico Madrid segera melakukan perubahan masif. Di menit 57, Diego Simeone mengeluarkan tiga pemainnya sekaligus: Johnny Cardoso, Nahuel Molina, dan Alexander Sørloth turun, berganti dengan pendatang baru untuk memperkuat serangan. Arsenal juga melakukan penyesuaian, mengganti Riccardo Calafiori dan Bukayo Saka (yang diganti Noni Madueke di menit 58) untuk menjaga kesegaran fisik jelang laga final. Di menit 66, Simeone kembali menukar Julián Alvarez dan Antoine Griezmann dengan Thiago Almada dan Álex Baena dalam upaya mencari penyeimbang.
Meskipun Atletico Madrid terus menekan dan menciptakan peluang, David Raya di gawang Arsenal menunjukkan performa cemerlang dengan rating 7.3, menjadi salah satu penyelamat pertandingan tim asuhan Mikel Arteta. Pertahanan Arsenal, terutama Declan Rice yang dinobatkan sebagai Man of the Match dengan rating 7.9, berhasil menahan semua serangan masuk Atletico Madrid hingga peluit akhir. Penguasaan bola Arsenal memang tidak sebesar babak pertama (turun menjadi 71 persen secara keseluruhan), namun kesabarannya dalam menjaga hasil terbukti sangat efektif.

Tegangan meningkat di menit-menit akhir ketika kedua tim saling menghabiskan waktu. Marc Pubill menerima kartu kuning di menit 81 karena pelanggaran. Di saat-saat final pertandingan, emosi memuncak: Koke menerima kartu merah kedua (kuning kedua) di menit 90+5, sementara Kepa Arrizabalaga juga terkena yellow card karena time wasting di detik-detik terakhir. Seluruh drama akhir pertandingan menunjukkan intensitas luar biasa dari kedua belah pihak.
Menurut laporan dari beberapa media lokal dan internasional, keputusan wasit dalam pertandingan ini memicu kontroversi. Walikota Madrid, Jose Luis Martinez-Almeida, bahkan menuduh UEFA membantu Arsenal dalam laga tersebut, seperti dilaporkan Goal.com. Sementara itu, pelatih Atletico Madrid Diego Simeone memberikan komentar mendalam soal beberapa momen kontroversial yang terjadi, meski tetap menerima hasil akhirnya (Jawapos.com). Di sisi lain, Arsenal dan pemain-pemainnya merasakan momentum luar biasa memasuki laga final melawan Paris Saint-Germain, yang lolos setelah menang agregat 6-5 atas Bayern Munich.
Perjalanan Arsenal menuju final menampilkan konsistensi impresif melawan klub-klub raksasa. Suara Merdeka mencatat bahwa The Gunners tidak terkalahkan menghadapi tim besar di kompetisi ini, dengan catatan clean sheet dan kemenangan beruntun. Kapten Arsenal, Martin Ødegaard, mengatakan skuadnya sedang dalam momen menakjubkan (Detik Sport), dengan peluang besar meraih double: trofi Liga Champions dan juga melanjutkan pertarungan di Liga Inggris domestik. Laga puncak melawan PSG akan menjadi kesempatan bersejarah bagi The Gunners untuk mengangkat piala tertua kompetisi klub Eropa.