Nottingham Forest memberikan pelajaran keras kepada Chelsea dengan menghancurkan The Blues 3-1 di markas mereka, Stamford Bridge, pada laga pekan ke-35 Premier League, Senin (4/5) malam WIB. Kemenangan gemilang tamu ini menutup harapan Chelsea untuk kembali ke jalur yang benar, sementara Forest membuktikan mereka bukan lagi tim yang mudah dihadapi. Dengan penguasaan bola mencapai 68 persen, Chelsea tidak mampu mengubah dominasi itu menjadi hasil positif dan justru terpukul oleh serangan balik lawan yang tajam.
Kehancuran Chelsea dimulai dari awal pertandingan. Hanya butuh 2 menit, Taiwo Awoniyi sudah membobol gawang Robert Sánchez setelah menerima umpan presisi dari Dilane Bakwa dari sayap kanan. Pukulan cepat Forest ini menunjukkan mereka datang dengan rencana matang untuk mengganggu permainan The Blues di kandang mereka. Situasi semakin berat pada menit ke-13 ketika VAR memberikan penalti kepada Forest atas pelanggaran yang melibatkan pemain Chelsea. Tidak ada kesalahan di eksekusi: Igor Jesus dengan tenang melempangkan penalti ke pojok gawang dan membuat skor menjadi 0-2, baru saja memasuki seperempat jam pertama.

Momentum terus berpihak kepada tamu hingga akhir babak pertama. Cole Palmer mendapat kesempatan emas ketika Chelsea berhasil mendapatkan penalti di menit ke-45+10, namun pelaksanaan penaltinya justru gagal diselamatkan dengan apik oleh penjaga gawang Matz Sels. Kesalahan Palmer ini akan menjadi sebuah momen yang mendefinisikan ketidakmampuan Chelsea dalam mengubah permainan mereka. Kalau mereka bisa menyamakan kedudukan sebelum istirahat, cerita pertandingan mungkin berbeda—tetapi sepak bola tidak mengizinkan apa-apa.
Babak kedua dimulai dengan substitusi masif dari kedua tim, namun Forest tetap menunjukkan kontrol permainan yang mengesankan. Di menit ke-52, Taiwo Awoniyi menambah keunggulan menjadi 0-3 setelah menerima umpan dari Morgan Gibbs-White. Gol ini secara praktis telah memutuskan pertandingan. Chelsea mencoba menggebrak dengan perubahan pemain dan taktik, namun semua usaha mereka terasa sia-sia di hadapan pertahanan Forest yang solid. Kiper Sels menunjukkan performa cemerlang dengan rating 7.9, seolah-olah dia membaca setiap gerakan penyerang Chelsea dengan sempurna.
Intensitas permainan meningkat menjelang akhir pertandingan, ditandai dengan kartu kuning yang berbunga-bunga. Moisés Caicedo dan Liam Delap masing-masing terima kartu kuning di menit ke-78, menunjukkan frustasi pemain Chelsea atas ketertinggalan yang berat. Pada menit ke-75, VAR kembali campur tangan untuk membatalkan gol João Pedro karena offside, mempertahankan ketertinggalan Chelsea di angka 3 gol. Penghujung pertandingan diwarnai dengan upaya Chelsea untuk mengurangi kekalahan. Di menit ke-90+3, João Pedro akhirnya bisa menjebol gawang Sels dengan umpan dari Marc Cucurella, membuat skor akhir menjadi 1-3.

Dari segi statistik, Chelsea mendominasi dengan 21 tembakan total dan 10 tendangan penjuru, namun hanya 5 yang tepat sasaran. Nottingham Forest jauh lebih efisien: dari 6 tembakan total, mereka berhasil 4 kali mengenai gawang dan mencetak 3 gol. Efisiensi ini menjadi pembeda utama—Forest tidak membuang-buang kesempatan seperti yang dilakukan Chelsea. Penguasaan bola 68 persen untuk Chelsea tidak berarti apa-apa tanpa konversi, sebuah ironi klasik dalam sepak bola modern di mana posisi memang tidak selalu menjamin kemenangan.
Taiwo Awoniyi dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan dengan rating luar biasa 7.7, setelah mencetak dua gol spektakuler dan menunjukkan pergerakan yang selalu berada di posisi yang tepat. João Pedro dari Chelsea menyusul dengan rating 7.9 meskipun timnya kalah telak, membuktikan ada pemain yang berjuang hingga akhir. Matz Sels untuk Forest juga patut diapresiasi dengan rating 7.9, penjagaan gawang yang solid di bawah tekanan penuh dari dominasi Chelsea.
Kekalahan ini memiliki implikasi besar untuk klasemen Chelsea yang kini semakin jauh dari zona Liga Champions. Seperti dilaporkan Goal.com, harapan The Blues untuk finis di lima besar sudah pupus, dan mereka kini terjebak di peringkat sembilan dengan 48 poin. Sementara itu, Nottingham Forest naik ke posisi yang lebih baik dengan mencuri poin berharga dari salah satu akademi terkuat Eropa. Laga pekan ke-35 ini menandai titik balik dalam musim Chelsea yang penuh dengan drama—dari perubahan pelatih hingga sekarang kehilangan identitas bermain mereka di kandang sendiri.