Jakarta – Duel sengit akan tersaji di Soldier Field pada Sabtu malam waktu Chicago ketika Chicago Fire menjamu New York Red Bulls dalam laga Regular Season pekan ke-13 MLS musim 2026. Pertandingan ini lebih dari sekadar tiga poin untuk diperebutkan — ini adalah momentum bagi Fire untuk bangkit dari hasil buruk mereka di kandang, sementara Red Bulls mencari konsistensi setelah meraih dua kemenangan di lima laga tandang terakhir.

Narasi yang menarik tersaji dari sisi manajerial. Seperti dilaporkan BeIN Sports, pelatih Chicago Gregg Berhalter akan berhadapan dengan mantan anak asuhnya Michael Bradley, yang kini menjadi bagian dari setup Red Bulls. Pertemuan ini menambah bumbu emosional sekaligus mengingatkan Berhalter pada periode ketika dirinya membangun fondasi skuad di masa lalu.

Foto: www.chicagofirefc.com
Foto: www.chicagofirefc.com

Secara statistik, Chicago Fire memiliki keunggulan yang jelas di atas kertas. Mereka duduk di posisi keempat klasemen dengan 17 poin dan selisih gol positif +8, sementara New York Red Bulls masih tertahan di peringkat ke-11 dengan 12 poin dan selisih gol negatif mencapai -11. Namun, angka-angka itu menyimpan cerita yang lebih rumit. Form kandang Fire dalam lima laga terakhir menunjukkan catatan LWLLD — hanya satu kemenangan — yang bertolak belakang dengan posisi mereka di klasemen. Laga terakhir di Soldier Field berakhir dengan kekalahan 2-3 dari FC Cincinnati, di mana Hugo Cuypers dua kali memasukkan bola namun tetap saja tidak cukup.

Hugo Cuypers menjadi andalan serang Fire dengan tujuh gol dalam lima laga terakhir. Performanya menggila, terutama saat Fire menghantam Sporting Kansas City dengan skor telak 5-0 beberapa pekan lalu, di mana Cuypers sendiri mencetak empat gol. Philip Zinckernagel juga turut menyumbang dengan tiga gol, memberikan Fire dua senjata tajam di lini depan. Desakan mereka akan menjadi ujian berat bagi pertahanan Red Bulls yang sudah terlihat rapuh.

Di sisi New York Red Bulls, mereka datang dengan motivasi berbeda. Meski hasil tandang terbaru buruk — kekalahan 0-2 dari FC Dallas dan 0-2 dari FC Cincinnati — mereka menunjukkan tanda-tanda pemulihan di laga-laga sebelumnya. Pertandingan melawan DC United berakhir seri 4-4, dan itu membuktikan potensi ofensif mereka masih hidup. Jorge Ruvalcaba dan Julian Hall masing-masing mencetak dua gol dalam periode ini, menunjukkan bahwa Red Bulls mampu mencetak gol bahkan saat dalam kepayahan. Namun, pertahanan mereka tetap menjadi titik lemah yang perlu diatasi sebelum laga berlanjut.

Foto: khelnow.com
Foto: khelnow.com

Model prediksi memberikan Chicago Fire peluang 58 persen untuk meraih kemenangan, sementara peluang New York Red Bulls menang hanya tersisa 18 persen, dengan sisa 24 persen adalah kemungkinan seri. Prediksi skor paling mungkin adalah 2-1 untuk Chicago, dengan peluang lebih dari 2,5 gol dalam pertandingan mencapai 62 persen. Analisis lebih lanjut menunjukkan probabilitas kedua tim mencetak gol mencapai 61 persen — fenomena yang wajar mengingat kedua belah pihak memiliki kemampuan ofensif meski pertahanan mereka tidak selalu solid.

Ketangguhan Red Bulls di perjalanan harus tidak diabaikan. Dalam lima laga tandang terakhir, mereka meraih dua kemenangan, membuktikan bahwa mereka bukan tim yang mudah dipukul di kandang lawan. Chicago Fire, meskipun diunggulkan, tidak boleh bermain tanpa konsentrasi penuh. Pertandingan ini akan menguji apakah dominasi mereka di klasemen mencerminkan kualitas sebenarnya, atau apakah inkonsistensi kandang mereka akan terus menghantui.

Pertandingan akan dimulai pukul 18:30 waktu setempat (pukul 02:30 WIB Minggu pagi 10 Mei 2026). Dengan semua faktor diperhitungkan, Chicago Fire diperkirakan akan keluar sebagai pemenang dengan skor 2-1, memanfaatkan keunggulan kandang dan ketajaman penyerang mereka. Namun, Red Bulls tetap memiliki peluang untuk mencuri poin jika mereka berhasil menekan serangan Fire dan memanfaatkan transisi cepat.