Manchester City hanya mampu membawa pulang satu poin usai bermain imbang 3-3 yang penuh drama melawan Everton di Hill Dickinson Stadium, Liverpool, Selasa (5/5) malam waktu setempat. Pertandingan sengit ini melihat The Citizens tertinggal 3-1 jelang akhir laga sebelum Erling Haaland dan Jérémy Doku mencetak comeback gemilang. Namun gol penyamaan Doku baru tercipta di menit 90+7, meninggalkan rasa getir bagi skuad asuhan Pep Guardiola yang sekali lagi gagal memanfaatkan dominasi penguasaan bola menjadi kemenangan.
Hasil imbang ini adalah pukulan signifikan bagi ambisi juara Manchester City. Arsenal, rival terdekat, kini memiliki kesempatan emas untuk memperlebar jarak di puncak klasemen. Dengan dua pertandingan lagi di depan mata, setiap poin yang terbuang bisa menjadi perbedaan antara meraih atau kehilangan mahkota Premier League musim ini. Sebagaimana dilaporkan CNN Indonesia, laga dramatis ini menunjukkan bahwa The Citizens masih memiliki daya tahan mental, tapi konsistensi defensif tetap menjadi kelemahan yang menghantui.

Babak Pertama: City Unggul, Everton Tertib Bertahan
Pembukaan babak pertama menampilkan Manchester City dengan penguasaan bola dominan sebagaimana ekspektasi terhadap The Citizens. Dengan 63 persen posesi, City menciptakan beberapa peluang berbahaya, meski Everton berhasil mempertahankan gawangnya dengan cukup rapi. Pertahanan Everton, meskipun pasif, tidak memberikan celah besar sampai menit ke-43 ketika Jérémy Doku berhasil menerobos dengan umpan dari Rayan Cherki untuk membuka keunggulan 0-1 bagi Manchester City. Gol itu tercipta dari eksplorasi sayap kiri yang gesit, menunjukkan City mampu mengeksekusi serangan dengan presisi meski tidak dengan frekuensi tinggi.
Everton merespons dengan lebih agresif menjelang akhir babak pertama, tapi City berhasil mempertahankan keunggulan tersebut hingga turun minum. Kartu kuning mulai berdatangan, termasuk kepada pemain Everton di menit 45, sinyal bahwa temperatur permainan terus meningkat. City sebenarnya memiliki peluang untuk menambah skor, namun efisiensi finishing menjadi kendala; dengan 6 tembakan tepat sasaran dari 14 total, rata-rata shooting mereka belum optimal untuk sebuah dominasi mencolok.
Babak Kedua: Everton Menggebrak, City Tertinggal Gelisah
Pola berubah drastis di babak kedua. Beto menerima kartu merah di menit 48 setelah akumulasi dua kartu kuning, langsung melemahkan Everton secara numerik. Namun yang mengejutkan, dengan 10 pemain, The Toffees justru bermain lebih berani dan berbahaya. Thierno Barry, sang pengganti, langsung membuat dampak signifikan. Di menit 68, Barry menyamakan kedudukan 1-1 tanpa bantuan assist, menandakan kualitas finishing yang tajam dari pemain muda tersebut. Momentum terus bergulir ke tangan Everton ketika Jake O'Brien mencetak gol kedua Everton di menit 73 melalui umpan James Garner, membuat skor menjadi 2-1 untuk tuan rumah.

Situasi semakin memburuk bagi Manchester City ketika Barry mencetak gol ketiga Everton di menit 81 dengan assist Merlin Röhl, membuat skor menjadi 3-1 untuk Everton. City tampak kehilangan kontrol, dan Gianluigi Donnarumma menerima kartu kuning di menit 74 karena argumentasi yang mencerminkan frustasi growing di tim tamu. Guardiola merespons dengan perubahan tatik, memasukkan Phil Foden di menit 74 dan Mateo Kovacic di menit 75, upaya desperado untuk mengubah arah pertandingan. Substitusi Kovacic terbukti efektif—melalui umpannya, Erling Haaland mencetak gol di menit 83 untuk membuat skor 3-2, mendekatkan City kembali.
Laga terus bergejolak dengan kartu merah terus berdatangan ke Everton. Jake O'Brien menerima kartu kuning di menit 86 untuk akumulasi. City terus menyerang dengan menambah Omar Marmoush di menit 87, dan usaha mereka akhirnya membuah hasil di menit 90+7 ketika Jérémy Doku menyamakan kedudukan 3-3 dengan assist Marc Guéhi. Gol penyelamat itu tercipta dari chaos dan ketidakstabilan defensif Everton yang sudah berkurang jumlah pemain, namun tetap menunjukkan bahwa City tidak pernah benar-benar menyerah.
Thierno Barry, yang bermain hanya 32 menit sejak masuk sebagai substitut, mencuri perhatian dengan rating tertinggi 8.9 dan dua gol. Jérémy Doku juga mengesankan dengan rating 8.6, membingkai pertandingan dengan gol di awal dan akhir laga. Erling Haaland, meski mencetak gol penting di menit 83, tidak seproduktif Barry dengan rating 7.3, mencerminkan betapa berat tugas striker City dalam pertandingan yang chaotic ini.
Menurut laporan Goal dan CNN Indonesia, Manchester City mengecam tindakan rasisme yang ditujukan kepada Antoine Semenyo dan Marc Guéhi selama pertandingan, dengan seorang pria ditangkap atas dugaan pelecehan rasial. Insiden serius itu menambah dimensi kelam di balik drama bola yang tercipta di lapangan. Secara sportif, hasil ini membuka jalan bagi Arsenal untuk semakin mendekat juara. Dengan tiga poin terbuang, The Citizens kini harus berpacu cepat dalam dua laga sisa mereka untuk menjaga harapan merebut tiara musim ini, sementara The Gunners menanti momentum sempurna untuk menjegal rival sejati mereka.