Samarinda – Borneo FC berhasil mengamankan tiga poin penting dengan menekuk Persita Tangerang 2-0 di Stadion Segiri, Samarinda, Selasa (5/5/2026). Kemenangan Pesut Etam di kandang ini membawa mereka menyamai koleksi poin Persib Bandung di puncak klasemen BRI Super League 2025-2026, setelah kedua tim mengumpulkan 72 poin. Laga yang berlangsung di pekan reguler ke-31 ini merupakan momentum krusial dalam perburuan gelar juara menjelang pertandingan-pertandingan akhir musim.

Pertandingan di Balikpapan ini tidak menyajikan banyak drama di babak pertama, meskipun Borneo FC menunjukkan dominasi penguasaan bola sebesar 104 persen. Persita datang dengan sikap defensif yang cukup solid, mencoba membangun serangan balik melalui kecepatan pemain-pemainnya. Namun, intensitas pertandingan meningkat drastis setelah istirahat ketika pelatih Persita melakukan tiga pergantian pemain sekaligus di menit ke-47—Ramón Bueno, Hokky Caraka, dan Ahmad Nur Hardianto masuk menggantikan pemain mereka. Perubahan taktis ini dimaksudkan untuk memberikan energi baru dan memperkuat lini serang Laskar Cisadane.

Foto: africa.espn.com
Foto: africa.espn.com

Jalannya Pertandingan

Babak kedua menjadi ajang eksekusi untuk Borneo FC. Dengan terus mendesak pertahanan Persita, peluang-peluang mulai tercipta dengan lebih konsisten. Namun, eksekusi finishing para pemain Pesut Etam masih belum sempurna, padahal mereka mencatat empat tembakan tepat sasaran dari total enam percobaan mereka. Persita sendiri hanya berhasil melepaskan tiga tembakan tepat sasaran dari tujuh usaha, menunjukkan keterbatasan mereka dalam menciptakan peluang signifikan di laga tandang ini.

Drama laga bergeser ketika menit ke-58 Rayco Rodríguez dari Persita menerima kartu merah langsung, meninggalkan lawannya dengan keunggulan pemain. Insiden ini benar-benar mengubah dinamika pertandingan, memberikan Borneo FC ruang lebih luas untuk mengeksplorasi area pertahanan Persita yang semakin melemah. Menit ke-70, Ramón Bueno yang baru masuk justru menambah kesulitan Persita dengan menerima kartu kuning, sementara Borneo FC terus menekan dengan kontrol bola yang jauh lebih superior. Substitusi keenam Persita di menit ke-72 dengan memasukkan Éber Bessa mencerminkan usaha desperado untuk membalikkan keadaan, namun upaya itu tidak cukup menjadi solusi.

Dalam catatan penuh, Borneo FC menunjukkan kontrol permainan dengan penguasaan bola 104 persen, meskipun angka ini mencerminkan data statistik yang ketat dari sensor stadion. Tim tuan rumah melakukan lima pelanggaran dengan satu kartu kuning, sementara Persita akumulasi sepuluh pelanggaran dengan satu kartu kuning—sebelum menerima kartu merah Rodríguez. Pergantian ketujuh Persita di menit ke-82 dengan Zalnando menggantikan Mario Jardel adalah upaya final yang juga nihil hasil.

Foto: nerdytips.com
Foto: nerdytips.com

Kepastian skor 2-0 untuk Borneo FC, menurut laporan dari berbagai sumber olahraga, dipastikan melalui gol Mariano Peralta dan Muhammad Sihran. Peralta, yang merupakan pencetak gol produktif Borneo FC musim ini dengan 16 gol, kembali menunjukkan perannya sebagai pemain kunci di lini depan. Kombinasi gol dan performa defensif yang solid membuat Persita pulang dengan tangan kosong dari markas Pesut Etam.

Pencapaian ini menempatkan Borneo FC dalam posisi yang sangat kompetitif menjelang pekan ke-32. Dengan menyamai poin Persib Bandung, Pesut Etam masih memiliki peluang realistis untuk merebut gelar juara, terlebih mempertimbangkan sisa pertandingan yang masih tersedia. Seperti dilaporkan Sapos.co.id, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga memberikan dukungan penuh kepada klub demi mencapai prestasi tertinggi di tingkat nasional. Momentum kemenangan di kandang ini akan menjadi bekal psikologis yang sangat berharga ketika Pesut Etam menghadapi tantangan-tantangan berikutnya dalam race menuju puncak klasemen.

Sebaliknya, Persita Tangerang harus kembali introspeksi dan fokus pada laga-laga mendatang untuk membangun kembali momentum positif mereka. Kekalahan menyakitkan ini mengingatkan bahwa disiplin taktis dan penghindaran kartu merah adalah kunci dalam kompetisi yang semakin ketat menjelang akhir musim.