Miami Gardens – Brasil menunjukkan dominasi luar biasa saat menghadapi Skotlandia di Hard Rock Stadium, menutup babak grup dengan kemenangan telak 3-0. Pertandingan yang berlangsung di malam tanggal 24 Juni 2026 ini menjadi bukti nyata mengapa Seleção masih dianggap kandidat utama meraih gelar keenam mereka. Vinícius Júnior mencuri perhatian dengan menciptakan dua gol, sementara Matheus Cunha menambah keunggulan di babak kedua dengan kesempatan emas yang terlepas dari jangkauan pertahanan Skotlandia.

Pertandingan terbuka dengan ledakan gol Brasil sejak awal. Hanya tujuh menit berjalan, Vinícius Júnior sudah menjebol gawang Angus Gunn setelah menerima umpan matang dari Rayan di sisi kiri. Skotlandia, yang masuk dengan motivasi tinggi usai meraih kemenangan 1-0 atas Haiti di laga kedua, langsung tertinggal dan dipaksa bermain reaktif. Momentum berlanjut menjelang akhir babak pertama ketika Brasil hampir menambah keunggulan, namun gol Vinícius di menit ke-22 dianulir karena pelanggaran yang ditangkap oleh VAR—sebuah keputusan yang kemudian menjadi isu kontroversi dan mendorong Asosiasi Sepak Bola Brasil mengajukan protes resmi kepada FIFA.

Foto: goal.com
Foto: goal.com

Babak Pertama: Kontrol Penuh dan Gol Pembuka

Taktik tinggi Brasil terhadap Skotlandia terlihat sejak peluit pertama. Dengan penguasaan bola mencapai 53 persen, Seleção menerapkan pressing yang intens di zona tengah lapangan, memaksa Skotlandia melakukan kesalahan dan membuang peluang membangun serangan sistematis. Skotlandia mencoba merespons dengan mengandalkan sayap kanan melalui Tony Ralston dan serangan balik cepat, namun pertahanan Brasil—dipimpin oleh Fabinho dan Danilo—terbukti solid dan sulit ditembus. Hingga istirahat, Brasil telah mengeluarkan lima tembakan tepat sasaran dari total delapan, sedangkan Skotlandia hanya mampu menciptakan satu kesempatan serius yang tidak menghasilkan gol.

Babak pertama ditutup dengan Brasil memimpin 1-0 berkat gol Vinícius. Meskipun kontroversial dengan keputusan VAR, keseluruhan permainan menunjukkan superiority teknis dan taktis Seleção. John McGinn, pemain pencetak gol Skotlandia di pertandingan sebelumnya, tidak mampu menciptakan dampak berarti karena ketatnya marking Brazil dan limitasi ruang bermain yang disediakan oleh skuad Ancelotti.

Babak Kedua: Pesta Gol dan Kontrol Total

Setelah istirahat, Brasil keluar dengan semangat lebih besar lagi. Pada menit ke-45+3, Vinícius menutup babak pertama dengan menambah keunggulan setelah menerima umpan sempurna dari Bruno Guimarães, yang terus membuktikan diri sebagai jantung permainan Seleção. Skotlandia masuk babak kedua dengan perubahan, mengganti Andrew Robertson dengan K. Tierney, namun perubahan tersebut tidak cukup mengguncang pola pertahanan Brasil yang sudah dominan.

Foto: detik.com
Foto: detik.com

Di menit ke-60, Brasil menjebol pertahanan Skotlandia untuk ketiga kalinya. Matheus Cunha menjadi eksekutor, memanfaatkan passing akurat dari Bruno Guimarães yang sekali lagi menunjukkan kontribusi esensialnya dalam membangun serangan. Pada titik ini, pertandingan sudah berakhir secara virtual. Skotlandia, dengan penguasaan bola hanya 47 persen dan hanya empat tembakan ke target dari 13 total, nyaris tidak memiliki jawaban untuk ritme Brasil yang terus meningkat.

Carlo Ancelotti melakukan rotasi masif di fase akhir pertandingan, memasukkan Casemiro, Lucas Paquetá, dan pemain cadangan lainnya untuk menjaga kesegaran fisik menjelang babak 16 besar. Skotlandia melakukan hal serupa dengan memasukkan Lawrence Shankland dan McGinn pada menit ke-90+1, namun gerak mereka terasa lamban dan tanpa arah. Pada menit ke-89, Ryan Christie menerima kartu kuning karena holding, melengkapi catatan indisiplin Skotlandia yang juga terlebih dulu menerima teguran dari wasit di berbagai kesempatan.

Vinícius Júnior mencatatkan rating tertinggi di lapangan dengan angka 9.0, dengan dua gol dari lima tembakan ke target dalam 93 menit. Sementara itu, kiper Skotlandia Angus Gunn masih mencatat rating 8.2 meskipun performa briliannya dalam melakukan beberapa penyelamatan—kenyataan pahit bahwa tim depannya tidak mampu menciptakan peluang emas sebaliknya. Dominasi Brasil terlihat dalam statistik: 20 tembakan total versus 13, dengan possession yang balanced namun output ofensif yang jauh lebih terukur dan berbahaya.

Hasil ini mengukuhkan Brasil sebagai tim yang menakutkan dalam grup. Dengan kemenangan telak ini, Seleção tidak hanya mengamankan tiga poin penuh, melainkan juga membangun momentum psikologis yang kuat menjelang fase knockout. Skotlandia, di sisi lain, kini menatap masa depan grup mereka dengan semakin berat. Kekalahan ganda dalam dua laga pertama (0-1 lawan Maroko dan 0-3 lawan Brasil) meninggalkan mereka dalam posisi yang sangat sulit untuk meraih tempat di babak 16 besar, kecuali mereka mampu mengemas kemenangan besar lawan Haiti dan berharap hasil di pertandingan lain berjalan sesuai skenario optimis mereka.